Jakarta Politisi PKS Mardani Ali Sera, mengungkapkan soal pentingnya peran riset demi kemajuan pembangunan di Indonesia. Hal tersebut disampaikannya menyusul peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei kemarin. "Hari pendidikan kemarin mesti diresapi untuk menata kembali aspek riset guna menghadirkan berbagai inovasi. Riset merupakan sesuatu yang all out kamis 13 januari 2022. home; in-depth; aceh; nasional. hukum; politik; peristiwa Marilah kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang Esa Mahakasih atas perkenanNya kepada kita dapat tiba pada Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei 2020. Puji Tuhan! Dalam momentum Hardiknas 2020 ini kita mengenang Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional. Mengenang karya pelayanannya di bidang pendidikan dan kebudayaan. Untuk itu kami menyampaikan Berbagitentang Kajian Agama, Opini, Trik, Admistrasi, BGM (Blog Guru Madrasah), Pengumuman, dan Segala Hal yang Berkaitan dengan Guru, terutama tingkat MI, Peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diselenggarakan pada setiap tanggal 2 Mei tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengenang hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara selaku Bapak Perintis ContohKarangan Narasi tentang Pendidikan - Karangan narasi adalah tulisan atau karangan yang dikemas sesuai kronologi waktu dari awal, tengah, dan akhir,serta bertujuan untuk memperluas wawasan dan menghibur pembaca. Karakteristik dalam karangan narasi adalah adanya beberapa tahapan seperti orientasi, klimaks, reorientasi, konflik, dan Opini Sumber Foto : kumparan.com. Berita 2 Mei 2021 321 Tanggal 2 Mei menjadi salah satu hari bersejarah yang tercatat sebagai Hari Pendidikan Nasional. Momen ini tidak lepas dari sosok Ki Hajar Dewantara yang turut andil dalam pendidikan di Indonesia. Ing Bicara tentang pendidikan, kita tak lupa akan peran dari tenaga pendidik fSlJZY. › Opini›Harapan pada Pendidikan Orientasi pendidikan untuk pembentukkan kemanusiaan, keindonesiaan, dan keahlian atau keterampilan pada bidang tertentu. Dan, pendidikan merupakan proses dialogis yang tidak nampak secara langsung perubahannya. Kompas SupriyantoHenry Giroux 2021 dalam Race, Politics, and Pandemic Pedagogy Education in a Time of Crisis menyebut politik dan ekonomi global telah mereproduksi ketidaksetaraan secara besar-besaran, eksploitasi, ekologi penghancuran, perang, penjajahan, dan komodifikasi kehidupan itu, wacana pendidikan yang hadir di masa pandemi lebih didominasi pertimbangan metodologis terkait pembelajaran daring. Selain itu, pendidikan yang merupakan milik publik justru menjadi sangat instrumental dan direduksi menjadi sebatas proses pelatihan, penjenjangan karir yang kosong, dan sangat berbasis pasar. Meski demikian, menurut Giroux, pendidikan sekali lagi menjadi elemen penting dari perjuangan kolektif untuk politik yang memiliki visi, energi, dan harapan juga Tantangan PendidikanHarapan selalu disematkan pada pendidikan, termasuk pada kontribusinya untuk memberikan corak berwarna pada setiap anak bangsa. Ruang pendidikan memberikan kesempatan bagi setiap anak bangsa untuk mengeksplorasi ragam pengetahuan dan keterampilan, terus mempertanyakan banyak hal, saling mengenal dan berjumpa, berdialog secara substantif, dan menempa saat ini narasi yang diinternalisasikan di ruang pendidikan selalu berkaitan dengan kompetisi. Titik tolaknya selalu dimulai dengan persaingan di era global dan hal tersebut memerlukan ragam saat ini narasi yang diinternalisasikan di ruang pendidikan selalu berkaitan dengan ada waktu bersantai jika tidak ingin tergilas laju zaman yang super cepat. Situasi yang menyebabkan dunia pendidikan kini semakin berwajah tak menyenangkan anak belajar mungkin hanya di masa taman kanak-kanak, di mana momen bermain anak sekaligus sebagai momen belajar. Kemudian semakin naik jenjang, anak-anak semakin terbebani dengan aneka tes. Sebab, tes dijadikan momen penentu bagi penguasaan pihak kemudian bertanya, apakah tujuan anak-anak belajar untuk menguasai pengetahuan atau mahir dalam keterampilan tertentu, atau untuk lulus tes?KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Para siwa berkompetisi dalam Lomba Cipta Game Olimpiade TIK Nasional OTN di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Minggu 6/8/2017. Selain lomba cipta gim, OTN yang diikuti oleh siswa tingkat SD hingga SMA tersebut juga diisi dengan kompetisi fotografi, mengetik cepat, membuat film pendek, dan pendidikan merupakan medan di mana setiap insan berupaya mengenal diri dan orang lain dan secara tekun meniti sedikit demi sedikit untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan diri, masyarakat, dan bangsa. Perwujudan pendidikan yang memberi ruang pada pengenalan diri, masyarakat, dan bangsa bukan perkara Tagore dalam pidato penerimaan nobel Gitanjali, 2012 menarik untuk disimak. Ketika bersekolah, Tagore menyebutkan bahwa dirinya harus melalui mesin pendidikan yang meremukkan kegembiraan dan kebebasan, sehingga keingintahuan anak-anak yang sangat alamiah harus direnggut proses pendidikan di sekolah. Itulah sebabnya ia mendirikan institusi pendidikan yang berupaya memberi ruang anak-anak untuk bersuka cita, menikmati hidup, dan mampu berkomunikasi dengan juga Tujuan Pendidikan dan Imajinasi Manusia IndonesiaOrientasi pendidikanKi Hajar Dewantara dalam Hubungan Pendidikan dan Kultur yang terhimpun di Buku I Pendidikan yang diterbitkan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa Cetakan, 2013 menyebut pendidikan dan pengajaran merupakan tingkah laku yang semata bersifat “kulturil”. Ki Hajar menjelaskan kultur menjadi tiga mengenai rasa kebatinan atau moral yang terkait dengan agama, adat istiadat, tata negara, sosial yang bertujuan membuat hidup yang tertib serta damai. Kedua, mengenai kemajuan imajinasi dalam bahasa Ki Hajar, kemajuan angan-angan seperti melalui pelajaran ilmu bahasa. Dan ketiga, terkait kepandaian atau vokasi dalam konteks saat ini seperti persoalan pertanian, industrian, pelayaran, kesenian dan lain kulturil dalam pandangan Ki Hajar adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari kematangan budi yang merupakan buah dari kehalusan perasaan, kecerdasan, dan kekuatan perspektif M Sjafei, seperti ditulisnya pada Tujuan Pendidikan dan Pengajaran Filsafat dan Strategi Pendidikan M Sjafei Ruang Pendidik INS Kayu Tanam, AA Navis, 1996, tujuan pendidikan dan pengajaran ialah menjadikan Indonesia besar dengan keaktifannya yang besar menggarap kekayaan alamnya yang besar untuk menolong kehidupan manusia seumumnya. Sjafei menjabarkan, agar melalui pendidikan didapat sifat manusia Indonesia yang memiliki rasa kemanusian, aktivitas yang besar, kecakapan dalam meniru dan mencipta sesuatu yang baru, rasa tanggungjawab, keyakinan demokrasi dalam hak dan kewajiban, jasmani yang sehat dan kuat, keuletan, ketajaman berpikir dan logis, serta peka dan halus Hassan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1985-1993, dalam dialog bertajuk “Mendekatkan Anak Didik pada Lingkungan, Bukan Mengasingkannya” di Prisma Edisi 2 bulan Februari tahun 1986 Pendidikan Adakah Harapan? menyampaikan bahwa pendidikan tanpa orientasi budaya akan menjadi gersang dari nilai-nilai luhur. Sedangkan kebudayaan tanpa pendukung-pendukungnya yang sadar dan terdidik, pada akhirnya akan memudar sebagai sumber nilai dan menjadi silam dalam perjalanan tanpa orientasi budaya akan menjadi gersang dari nilai-nilai itu, menurut Fuad Hassan, pendidikan bertujuan untuk memberikan peluang kepada seseorang untuk memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, berbagai kemahiran dan keahlian. Melalui pendidikan, sebut Fuad Hassan, seseorang bisa sampai pada kesadaran “pemilikan”, bahkan “penguasaan” ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga meningkat kesadarannya akan kemampuan untuk bergumul dengan berbagai gagasan yang dipaparkan sudah sangat lama, tetapi paparan dari Ki Hajar Dewantara, M Sjafei, dan Fuad Hassan tetap penting untuk disimak dan menjadi pengingat bagi kita ketika bicara mengenai tujuan pendidikan. Jika disimak secara seksama ketiganya menitikberatkan orientasi pendidikan untuk pembentukkan kemanusiaan, keindonesiaan, dan keahlian atau keterampilan pada bidang tertentu. Ketiga orientasi tersebut tetap krusial diinternalisasikan dalam ruang pendidikan saat 2010 dalam Good Education in an Age of Measurement menyebutkan bahwa fungsi pendidikan antara lain kualifikasi, sosialisasi, dan subyektifikasi. Orientasi kemanusiaan dan keindonesiaan jika meminjam paparan Biesta masuk ke ranah sosialisasi dan subyektifikasi, sementara keterampilan masuk ke ranah saja hingga kini pendidikan di Indonesia terus menerus mendapatkan tantangan untuk mewujudkan harapan-harapan yang disampaikan oleh pemikir pendidikan di masa lampau. Surakhmad 1986 mengingatkan tentang adanya usaha reformasi tambal sulam dalam perbaikan pendidikan. Sistem yang ada menurut Surakhmad tidak pernah didesain dengan sadar untuk efektif menghadapi masa depan. Seperti ada yang selalu luput dari segi orientasi juga Mendidik untuk Menuai Generasi Unggul Masa DepanTWITTER ANGGI AFRIANSYAH Anggi AfriansyahSuwignyo 2021 bahkan menyebut sejumlah persoalan pendidikan terus berulang setiap waktu dan solusi kebijakan pemerintah berada pada keruwetan politik pendidikan yang tetap. Biesta 2013 dalam The Beautiful Risk of Education memaparkan bahwa pendidikan merupakan proses dialogis sehingga pada prosesnya laju pendidikan bisa jadi begitu lambat, sulit, membuat frustasi, penuh kelemahan, dan hasilnya tidak dapat dijamin. Sesuatu yang jelas berbeda dengan pembangunan infrastruktur yang nampak secara langsung Afriansyah, Peneliti di Pusat Riset Kependudukan BRIN, Twitter anggiafriansyah Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh Salam sejahtera untuk kita semua, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, salam kebajikan. Hari ini. Minggu 2 Mei 2021. Segenap bangsa di republik ini kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional, hari dimana kita seyogianya bukan hanya sekedar mengenang jasa pahlawan pendidikan dimasa lalu, namun juga menerapkan nilai-nilai perjuangan mereka dalam tekad dan upaya kuat mencabut benih-benih kebodohan yang ditanamkan penjajah pada ladang pemikiran bangsa Indonesia. Kita semua tentunya sependapat bahwasanya sejarah Ki Hadjar Dewantara telah memberikan banyak tauladan akan pentingnya pendidikan bagi kehidupan dan kemajuan bangsa ini. Tak ada hukuman yang lebih menyedihkan dari terpenjara kebodohan. Kebodohan jelas akar atau jurang kemiskinan dan kemaksiatan. Hanya dengan pendidikanlah, bangsa ini dapat terlepas dari beragam belenggu kemaksiatan, salah satunya korupsi dan perilaku koruptif yang telah menggurita direpublik ini. Komisi Pemberantasan Korupsi KPK sudah tentu menilai pendidikan sangat penting karena menjadi urat nadi dan elemen vital dalam upaya membangun karakter serta integritas bangsa, melalui pendidikan yang berkualitas yang menanamkan nilai-nilai antikorupsi didalamnya. Pendidikan menjadi begitu amat penting, mengingat pendidikan sebagai satu upaya mewujudkan tujuan negara mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan bangsa yang cerdas maka akan membawa kesejahteraan umum bagi semua anak bangsa. Bahkan jauh lebih dari itu, pendidikan adalah salah satu senjata yang paling ampuh yang bisa kita gunakan untuk mengubah dunia Education is the most powerful weapon which you can use to change the world. Karena itulah, KPK memasukkan pendidikan sebagai salah satu "national interest" dalam road map 2011-2023 dan bukan hanya itu, KPK juga menempatkan pendidikan sebagai strategi pertama dari 3 strategi pemberantasan korupsi lainnya, yang menjadi core bussiness KPK. Dengan menggunakan jejaring pendidikan formal maupun non formal mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Peguruan Tinggi, KPK telah memasukan unsur dan nilai-nilai pendidikan anti korupsi kepada masyarakat, untuk membentuk dan menjaga karakter serta integritas setiap anak bangsa agar lepas, tidak terpengaruh laten korupsi yang telah berurat akar direpublik ini. Tidak dapat dipungkiri, nilai-nilai perjuangan yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara bersama pahlawan pendididkan lainnya, semuanya benar. Melalui pendidikan, kita tentu dapat merekuh kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Ingat, masa depan bangsa ini tidak ditentukan saat dia terlahir, namun dengan pendidikan serta semangat belajar, berjuang, bekerja keras, Insya Allah masa depan negeri ini akan semakin baik. Selamat Hari Pendidikan Nasional, mari tanamkan selalu nilai-nilai anti korupsi dalam setiap pendidikan di republik ini, agar cita-cita merdeka dari laten korupsi, dapat segera raih dan wujudkan di bumi pertiwi. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh. › Opini›Mengurangi Kesenjangan... Pendidikan yang dijalankan dengan menjunjung rasa gotong royong antara guru, sekolah, dinas pendidikan, aktivis dan peneliti pendidikan, juga orangtua dan siswa harus dikembangkan untuk mengurangi kesenjangan pendidikan. HERYUNANTOIlustrasi”Kami memang tidak sepintar orang Jawa,” ujar banyak guru di daerah Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ujaran serupa konon juga kerap diucapkan oleh guru-guru di daerah terpencil jauh dari Pulau Jawa atau yang disebut daerah 3T terdepan, terpencil, dan tertinggal.Para guru tersebut tidak percaya diri karena banyak materi atau pembelajaran yang diminta, berbeda dengan kenyataan hidup mereka sehari-hari. Misalnya mempelajari tari Saman dari Aceh, yang tariannya belum diketahui guru, atau siswa diminta membuat kliping, padahal tidak ada koran yang beredar di desa. Jangankan melihat video di jaringan internet, saluran listrik dan gawai untuk mengaksesnya pun tidak tersedia. Banyak guru tidak paham, apalagi murid-murid mereka. Cerita tersebut dibagikan oleh aktivis Pendidikan Sokola Institute, yang mengamati pendidikan di daerah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Fadilla Mutiarawati, saat kami membicarakan daruratnya pendidikan di Indonesia, apalagi sering disebut sebagai learning loss, padahal bukan. Dengan kondisi seperti ini, mengapa pemerintah masih memaksakan program pembelajaran terpusat dari Jakarta?Pentingnya bahasa ibu Dalam artikelnya di 21/9/2022, Fadilla menekankan pentingnya penggunaan bahasa ibu, terutama bahasa daerah, bagi pembelajaran di daerah-daerah terpencil karena ”Ayat mengenai bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada sistem pendidikan nasional… menghilang pada RUU Sisdiknas”. Rancangan Undang-Undang RUU Sisdiknas memang rencananya akan menggantikan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dianggap sudah kedaluwarsa, tetapi isinya banyak dilanggar oleh Kemendikbudristek, contohnya dengan tidak mengakui pelajaran dalam bahasa juga Hilangnya Hak Memperoleh Pendidikan dalam Bahasa IbuTragisnya, dari sumber referensi Kemendikbudristek sendiri Pendidikan di Indonesia, Belajar dari hasil PISA 2018. 2019. Jakarta Pusat Penilaian Pendidikan, disebutkan hal 32 disebutkan bahwa ”Pada PISA 2015 ada tren penurunan proporsi siswa penutur bahasa Indonesia. Saat itu, dibandingkan dengan total populasi anak usia 15 tahun, proporsi siswa PISA penutur bahasa Indonesia sebesar 25 persen, sementara pengguna bahasa daerah atau bahasa lain dalam percakapan sehari-hari mencapai 42 persen. Pada PISA 2018, proporsi siswa penutur non bahasa Indonesia meningkat pesat hingga mencapai 59 persen populasi anak usia 15 tahun, sementara siswa penutur bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari hanya 22 persen.”Berdasarkan informasi tersebut, artinya di tahun 2015, penggunaan bahasa Indonesia hanya 25 persen dan bahasa daerah 42 persen. Di tahun 2018, penggunaan bahasa Indonesia 22 persen, sedangkan penggunaan bahasa daerah naik menjadi 59 persen. Ini menunjukkan bahasa daerah masih dipakai dan harus terus digalakkan dalam lembaga formal pendidikan, tetapi mengapa pemerintah pusat tidak mengacu kepada hasil riset lembaganya sendiri untuk menyusun kebijakan penggunaan bahasa daerah di sekolah?Ini menyedihkan dan memperlihatkan pembuat kebijakan yang tidak mau membaca temuan berdasarkan fakta studinya sendiri, masih bersifat top-down, tidak menerima masukan dari akar rumput, apalagi mendengar masukan dari guru-guru di daerah 3T pada PISAReferensi Pusat Penilaian Pendidikan tersebut, juga acuan naskah akademik RUU Sisdiknas, dinilai mengacu pada PISA, yakni penilaian pendidikan yang dilakukan lembaga ekonomi antarpemerintah negara yang tergabung dalam Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi OECD. Sudah diketahui secara umum dari banyak laporan bahwa siswa-siswa Indonesia tidak mampu memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika tes PISA siswa Indonesia dalam membaca pun amat rendah, skornya hanya 371, jauh dibandingkan rata-rata skor negara OECD di kisaran 487. Adalah benar bahwa skor rendah ini memprihatinkan dan kita harus melakukan sesuatu, tetapi seperti ditulis Fadilla, ”PISA tidak mampu mengukur kemahiran anak perempuan Kajang di Sulawesi Selatan yang menenun tope le’leng dengan pewarna dari daun tarung, atau ketepatan anak-anak Rimba di Jambi memasang jerat sesuai dengan morfologi hewan buruan di hutan yang kompleks.” Untuk mewujudkan nilai-nilai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan SDGs, pemeliharaan adat, nilai dan kebiasaan, termasuk bahasa daerah, perlu digalakkan, utamanya dalam PISA, konsep pendidikan mengacu pada pendidikan ala Barat. Konsep Merdeka Belajar yang diinisiasi pemerintah, misalnya, lebih banyak ditujukan untuk pendidikan tinggi setidaknya ada empat program Kampus Merdeka, dan bukan untuk memajukan pendidikan dasar. Pokok-pokok kebijakan Merdeka Belajar 1 pada awalnya pun lebih fokus kepada ujian dan mekanismenya. Padahal, banyak ahli pendidikan, misalnya Yudi Latif Kompas, 4 Mei 2022, menyatakan pentingnya transformasi pendidikan sebaiknya dimulai sejak pendidikan dini dan dasar. Saya pun setuju dengan pendapat ini, makanya peningkatan kapasitas guru—terutama untuk guru-guru di TK dan SD—amatlah juga Rekonstruksi PendidikanPeningkatan kapasitas guru pun dilakukan dengan Program Guru Penggerak yang terpusat secara nasional guru diminta mendaftar langsung ke suatu platform digital dan tidak sistemis. Artinya, kepala dinas pendidikan di daerah, baik di tingkat kabupaten/kota di mana desentralisasi dilakukan maupun tingkat provinsi dilewati!Jadi, walau banyak guru penggerak yang terbentuk, masih ribuan guru di Indonesia yang tidak terdaftar sebagai guru penggerak. Kita juga tahu bahwa guru memiliki wawasan luas. Namun, apabila lingkungan sekolah dan kepala sekolah tidak mendukung, guru tersebut tidak dapat ”merdeka” untuk mengaplikasikan ilmu yang lebih baik apabila program dilakukan sistematis, secara berkesinambungan juga untuk dinas pendidikan daerah, sekolah, dan kepala sekolah, bukan hanya untuk guru, tanpa mesti dilakukan terpusat dari Jakarta. Budaya daerah akan lebih berdaya apabila Jakarta percaya akan kemampuan daerah-daerah menjalankan pendidikan. Belum lagi program pelatihan Guru Penggerak intinya hanya berisi sosialisasi peraturan belaka, bukan semacam pelatihan pedagogi. Artinya, guru masih diminta mendengarkan paparan daripada mengembangkan pemikirannya sendiri!Ekosistem pendidikan Rezim pendidikan saat ini tampaknya senang dengan pengumpulan data. Setelah asesmen, di awal 2022, Kemendikbudristek mengeluarkan ”kebijakan Kurikulum Merdeka sebagai opsi pemulihan pembelajaran” dan ditawarkan langsung ke sekolah-sekolah dan guru penggerak. Pihak pemerintah daerah, walaupun tertera, tetapi tidak dijelaskan seperti apa kegiatan yang dapat paparan mengenai Sekolah Penggerak atau materi sosialisasi kurikulum ini sebelumnya juga disebut sebagai Kurikulum Prototipe ternyata disusun oleh para birokrat di Jakarta—dan bukan guru-guru sekolah dasar—yang walaupun berilmu mungkin belum memiliki pengalaman mengajar di depan kelas. Materi kurikulum ini kemudian diinformasikan kepada para sekolah dan guru untuk dijalankan tanpa ada proses uji coba dan umpan balik terlebih dalam mengelola pendidikan, lembaga OECD menekankan bahwa tidak ada satu sistem yang benar, yang dipentingkan adalah juga menyedihkan adalah mata pelajaran yang bersifat ekspresif, seperti musik, seni rupa, pekerjaan tangan, dan olahraga, hanya menjadi mata pelajaran pilihan belaka. Siswa diminta memilih salah satu saja! Ini tentu tidak sejalan dengan niat mengembangkan Profil Pelajar Pancasila, yang berisi pengembangan karakter dan lebih banyak dengan interaksi sosial. Siswa hendaknya tetap menerima semua mata pelajaran musik/menyanyi, menggambar, prakarya, dan olahraga, untuk membuka potensi yang ada, dan mengembangkan kreativitas, interaksi, kerja sama gotong royong dan bernalar dalam mengelola pendidikan, lembaga OECD menekankan bahwa tidak ada satu sistem yang benar, yang dipentingkan adalah prosesnya OECD, 2016 Governing Education in a complex world. Amat penting adalah ekosistem pendidikan yang terdiri dari guru dan kepala sekolah yang kompeten, adanya kesempatan belajar secara profesional, memiliki tujuan bersama apa yang akan dituju/aims dan bagaimana mencapai tujuan tersebut/guidelines; dan mengembangkan dialog terbuka untuk tersebut amat universal dan dapat dikembangkan di Indonesia, juga mengurangi kesenjangan pendidikan apabila guru-guru di daerah dapat menyampaikan pelajaran dalam bahasa setempat. Pihak dinas pendidikan dapat memulai mendokumentasikan nilai-nilai muatan lokal tersebut, sambil melestarikan budaya daerah yang mulai memudar untuk dipelajari generasi juga Kesenjangan Mutu dalam Rapor Pendidikan IndonesiaIndonesia memiliki bapak pendidikan bangsa, Ki Hadjar Dewantara, yang sudah meletakkan fondasi pendidikan yang humanis. Intinya, fokus kepada pembelajaran siswa dengan kualitas pendidikan dan keberpihakan equity, kebijakan berdasarkan riset, guru-guru yang profesional, kolaborasi gotong royong dan sinergi kebijakan antar dinas di tingkat kabupaten/ praktiknya, pendidikan dijalankan dengan menjunjung rasa gotong royong antara satu pihak dengan pihak lain guru, sekolah, dinas pendidikan, aktivis dan peneliti pendidikan, juga orangtua dan siswa. Semangat kolaborasi, saling percaya dan mendengarkan, juga menghormati peran masing-masing amat diperlukan di sini. Jangan sampai ujuran bahwa ”orang Jawa lebih pintar” itu masih ada dalam pendidikan Indonesia, apalagi dalam masyarakat kita yang bineka D Adiputri, Pengajar di Universitas Jyväskylä, FinlandiaDOK. PRIBADIRatih D Adiputri › Komisi masa depan pendidikan UNESCO meluncurkan laporan yang menegaskan bahwa arah dan tujuan pendidikan harus berubah. Sistem pendidikan dinilai telah keliru, terlalu menekankan keberhasilan individu dan persaingan. DIDIE SW-Di akhir 2021, komisi masa depan pendidikan UNESCO meluncurkan laporan berjudul ”Reimagining Our Futures Together”.Laporan ini menegaskan bahwa arah dan tujuan pendidikan harus berubah. Sistem pendidikan dinilai telah keliru menyebarkan keyakinan bahwa kenyamanan dan keistimewaan jangka pendek lebih penting daripada keberlanjutan jangka panjang. Sistem pendidikan terdahulu terlalu menekankan nilai keberhasilan individu, pembangunan ekonomi dan persaingan nasional, sambil mengorbankan kebersamaan, pemahaman kesalingtergantungan manusia, serta kepedulian ke sesama dan Bumi. Pendidikan berarah baru harus menjamin solidaritas, welas asih, etika, dan empati tertanam dalam di desain kegiatan belajar UNESCO, 2021.Namun, dunia hari ini berdasarkan tata nilai yang benar-benar baruJika mau jujur, kritik tajam dari komisi masa depan pendidikan di atas juga tak keliru jika ditujukan pada praktik pendidikan kita dan memang sejumlah negara lain juga memiliki strategi pendidikan berdasar nilai lama. Kenyataan itu perlu diakui sebagai bagian dari sejarah pendidikan saja sistem pendidikan terdahulu memang cocok menghadapi tantangan masa lalu. Namun, dunia hari ini berdasarkan tata nilai yang benar-benar baru. Kebersamaan seluruh umat manusia lintas negara serta budaya sedang ditantang guna menyelesaikan berbagai masalah dunia. Maka, sistem pendidikan nasional juga perlu merumuskan ulang arah pendidikannya berdasarkan tata nilai baru, seperti kebersamaan wabah Covid-19 telah menghentikan kesempatan belajar 1,6 miliar anak di dunia dan membuktikan kerentanan sistem pendidikan, situasi dunia belakangan ini ditandai pula dengan kemerosotan demokrasi dan meningkatnya keterbelahan bangsa serta kekerasan di masyarakat. Mundurnya demokrasi dan melemahnya kebangsaan tak hanya terjadi di negara Dunia juga RUU Sisdiknas Siapkan Pendidikan yang Adaptif dan Fleksibel dengan Perkembangan ZamanNegara adidaya AS, yang sebelumnya senantiasa dicitrakan sebagai benteng pertahanan demokrasi, pada 2021 untuk pertama kali dikategorikan sebagai negara yang demokrasinya sedang mundur International Institute for Democracy and Electoral Assistance, 2021. Sulit membayangkan upaya primitif seperti mempersulit warga negara melaksanakan hak pilihnya digelorakan di republik yang sudah tak muda lagi karena itu, tak mengejutkan jika komisi masa depan pendidikan UNESCO menyimpulkan kerapuhan planet Bumi, kemunduran demokrasi dan meningkatnya pengutuban, teknologi digital yang menghubungkan dan memecah belah, serta ketakmenentuan masa depan dunia kerja sebagai empat disrupsi atau usikan utama yang dihadapi dunia dan perlu ditanggapi institusi diresapi, indikasi empat usikan yang saling beririsan itu juga sudah terasa di Indonesia, maka ruang kelas kita juga tidak boleh steril darinya. Namun, bagaimana sistem pendidikan nasional mengalamatkan empat masalah global tadi?Sistem pendidikan nasional secara umum mempunyai sejumlah perangkat, seperti perundangan, peraturan, standar, kurikulum, capaian pembelajaran, buku teks, dan lainnya, tetapi juga perlu mengusung pesan utama atau adicita yang melandasinya. Adicita ini yang selanjutnya akan menjadi nyawa sistem pendidikan secara SWMaka, apa seharusnya nyawa sistem pendidikan Indonesia dalam tata nilai dunia yang baru ini? Jawabannya belum kita ketahui. Gagasan yang paling sesuai bagi Indonesia harus dicari bersama. Meski demikian, yang kita tahu pasti, adicita pendidikan itu harus sanggup menjadi kerangka guna membedah empat tantangan global usulan awal, gagasan seperti interconnectedness atau kesalingterhubungan dapat dijadikan sebagai kandidat adicita sistem pendidikan nasional dicatat, sejumlah kebijaksanaan luhur serta keyakinan masyarakat tradisional di Indonesia sesungguhnya sudah tak asing dengan pesan kesaling-terhubungan dalam kehidupan, yakni bahwa segala sesuatu di semesta ini saling terhubung. Oleh karena itu, walau sistem pendidikan nasional berlandaskan kesalingterhubungan berkepentingan dengan isu global, sistem pendidikan nasional tetap terhubung dengan lingkungan pendidikan nasional yang mengusung kesalingterhubungan sebagai tiang utamanya akan berkembang kokoh berlandaskan konsep yang jelas. Guru dapat merancang desain pembelajarannya dengan kreatif demi mutu belajar siswa karena sistem pendidikan ini luwes untuk dikembangkan, tetapi juga memberikan kerangka yang pendidikan nasional yang mengusung kesalingterhubungan sebagai tiang utamanya akan berkembang kokoh berlandaskan konsep yang tataran abstrak, empat usikan besar tadi dapat ditelaah menggunakan ”lensa berpikir” kesalingterhubungan dan telaah dilakukan menerapkan berbagai disiplin serta lintas disiplin pengetahuan. Sedangkan pada tataran pedagogi, interaksi siswa dan guru dalam pembelajaran juga akan menggunakan kerangka pengetahuan guru dan murid bukan lagi mengikuti model pemberi-penerima, tetapi menggunakan model pengetahuan sebagai milik dan dikembangkan bersama. Hubungan antarpengetahuan yang berkerangka kesalingterhubungan akan mendorong semangat kelintasdisiplinan. Tak lupa, ruang kelas menjadi laboratorium komunikasi dunia berwacana universal, seperti perubahan iklim dan ketimpangan ekonomi, tetapi juga tetap terhubung kuat dengan wacana di pada tataran pembelajaran, siswa membangun pemahamannya pada konsep kesalingterhubungan dengan alam. Sebagai ilustrasi, seperti di kurikulum kelas IX yang disusun Yukon First Nations Curriculum Working Group Yukon adalah sebuah teritori paling barat di Kanada juga menggunakan kesalingterhubungan sebagai gagasan utama juga Pendidikan Masa Depan Mesti Memperkuat Solidaritas GlobalDi kurikulum ini, dirancang kegiatan mengukur diameter batang pohon. Dari situ pelajar memperkirakan jumlah biomassa dan kadar nutrisi dari pohon-pohon di sekitar sekolah. Kemudian, siswa menghitung kandungan karbon setiap pohon dan penyerapan karbon dioksidanya. Dari pengalaman itu pula siswa membangun pemahaman bagaimana kesaling -terhubungan beraksi di planet saat yang sama, kegiatan komputasi dan pemanfaatan teknologi informasi dipelajari secara bermakna, tak sekadar manipulasi angka yang mekanistis. Gagasan utama kesalingterhubungan juga secara alami muncul pada saat siswa mempelajari konsep matematika seperti pola, fungsi, data, dan sebagainya. Kecuali itu, siswa telah terjun langsung mempraktikkan kesalingterhubungan disiplin sains, teknologi, matematika, dan kesadaran pada lingkungan hidup secara di pelajaran IPS, gagasan kesalingterhubungan itu dapat menjadi lensa guna membedah pengetahuan tentang pemerintahan dan jalinan kebangsaan. Dalam mata pelajaran bahasa, gagasan kesalingterhubungan ini menjadi lensa guna membedah struktur kalimat dan paragraf. Di mata pelajaran kesenian, kesalingterhubungan menjadi lensa berpikir guna membedah berbagai fenomena serta melalui sistem pendidikan ini, siswa membangun kesadaran untuk berkontribusi merawat lingkungan dan mengokohkan persaudaraan serta perdamaian. Secara paralel, para siswa tetap mengasah kecakapannya dalam disiplin matematika, sains, teknologi, serta kecakapan abad ke-21 lainnya secara terhubung satu sama lain dengan porsi waktu tetap sama. Kesalingterhubungan yang diusulkan di sini baru satu kandidat sebagai adicita sistem pendidikan dan tentunya sangat mungkin masih ada gagasan utama lain yang lebih nilai baruSetiap anak Indonesia, seperti teman sebayanya di negara lain, mendambakan sistem pendidikan yang berlandaskan tata nilai baru. Guna mewujudkan pendidikan seperti itu di Indonesia sama sekali tak mustahil, tetapi upaya sistematis menuju ke sana harus digarap pada tataran konsep dan teknis yang mendasar sekaligus rinci. Berbagai pembuatan undang-undang, aturan, dan kurikulum telah menyerap dana dan waktu, tetapi selalu jauh panggang dari Pranoto, Pengajar Matematika di ITBDOK. PRIBADIIwan Pranoto EditorSRI HARTATI SAMHADI, YOHANES KRISNAWAN - Sejarah Hari Pendidikan Nasional tak lepas dari sosok dan perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Beliau adalah pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia di era kolonialisme. Hari Pendidikan Nasional Hardiknas adalah hari yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia setiap 2 Mei, untuk memperingati kelahiran dan menghormati jasa Ki Hadjar juga Hari Pendidikan Nasional 2021 Sejarah, Tema, dan Link Download Logo Ki Hadjar Dewantara Melansir 2 Mei 2020, pria kelahiran Pakualaman, Yogyakarta, 2 Mei 1889, ini dikenal sebagai pencetus Taman Siswa. Kutipannya yang terkenal, yakni "Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani". Artinya, di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik; di tengah atau diantara murid, guru harus menciptakan ide dan prakarsa; di belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan serta arahan. Nama asli Ki Hadjar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Melansir laman Kemdikbud, Ki Hajar Dewantara melahirkan sistem pendidikan nasional bagi kaum pribumi dengan nama Taman Taman Siswa berdiri pada tanggal 3 Juli tahun 1922 di Yogyakarta. Taman Siswa ini mengajarkan kepada pribumi tentang pendidikan untuk semua yang merupakan realisasi gagasan dia bersama-sama dengan temannya di Yogyakarta. Sekarang Taman Siswa mempunyai 129 sekolah cabang di berbagai kota di seluruh Indonesia. Baca juga Hari Pendidikan Nasional dan Solusi Belajar di Tengah Pandemi Corona... Bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara merupakan Mentri Pengajaran pertama Kabinet Presiden Soekarno yang kemudian menjadi Kementrian Pendidikan dan Pengajaran dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ki Hajar Dewantara juga merupakan Pahlawan Nasional ke-2 yang ditetapkan Presiden pada tanggal 28 November 1959 berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Dengan Keppres itu dia juga ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Berdasarkan pemberitaan Harian Kompas, 2 Mei 1968, karena jasa-jasanya, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan penghargaan dari pemerintah.

opini tentang hari pendidikan nasional